Senin 13 April 2026
Wanita Indonesia
Advertisement
  • HOME
  • WARTA
  • WISATA
  • TEKNOLOGI
  • GAYA HIDUP
  • TIPS
  • PARENTING
  • WANITA HEBAT
  • RESEP
  • INDEX
No Result
View All Result
Wanita Indonesia
  • HOME
  • WARTA
  • WISATA
  • TEKNOLOGI
  • GAYA HIDUP
  • TIPS
  • PARENTING
  • WANITA HEBAT
  • RESEP
  • INDEX
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Morning News
Home WANITA HEBAT

Maria Ressa, Perempuan Jurnalis Peraih Nobel Perdamaian 2021

redaksi by redaksi
Oktober 11, 2021
0
Maria Ressa, Perempuan Jurnalis Peraih Nobel Perdamaian 2021

Maria Ressa, Perempuan Jurnalis Peraih Nobel Perdamaian 2021

READ ALSO

Ratu Ratna Ajak Masyarakat Lawan Polarisasi Politik

13 Tahun Rayakan Kilau Persahabatan dari Koleksi Lebaran 2022

wanitaindonesia.co – Masuk penjara karena tulisannya, kegigihan perempuan jurnalis, Maria Ressa dalam melawan kediktatoran Presiden Filipina Rodrigo Duterte melalui tulisan-tulisannya telah mengantarkan Maria Ressa mendapatkan penghargaan Nobel Perdamaian 2021

Perlawanan perempuan jurnalis di Filipina, Maria Ressa di Filipina menunjukkan bahwa kebebasan pers di Filipina berada di bawah ancaman.

Dalam 3 tahun terakhir ini, kondisi tersebut menjadikan jurnalis Rappler, Maria Ressa menjadi target utama

Sebuah film dokumenter “A Thousand Cuts” yang diputar secara terbatas pada 6-9 Oktober 2021, kemudian menayangkan perjuangan Maria Ressa, seorang jurnalis yang telah menjadi target utama atas tindakan keras yang dilakukan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte terhadap jurnalis di media.

Nama Maria Ressa terus-terusan menjadi sorotan dalam 3 tahun terakhir setelah ia dan media yang didirikannya, Rappler, secara vokal menyuarakan penyalahgunaan kekuasaan pemerintahan Presiden Filipina Rodrigo Duterte. Maria bahkan kerap beradu argumen dengan Duterte yang menganggap Rappler sebagai media penyebar hoaks. Maria juga dipenjara setelah ia menjadi target utama dalam kasus ini

Tak goyah melakukan perlawanan, Maria Ressa justru meraih penghargaan Nobel Perdamaian pada 8 Oktober 2021. Ini merupakan penghargaan Nobel pertama yang diberikan pada jurnalis di seluruh dunia, dan Maria Ressa mendapatkannya. Ia mendapat penghargaan bersama Dmitry Muratov, seorang wartawan investigasi di Rusia. Seperti dilansir dari VOA Indonesia, mereka diberikan penghargaan “atas perjuangan berani mereka untuk kebebasan berekspresi di Filipina dan Rusia,” kata Ketua Komite Nobel Norwegia Berit Reiss-Andersen dalam konferensi pers.

“Pada saat yang sama, mereka mewakili semua jurnalis yang membela cita-cita ini di dunia di mana demokrasi dan kebebasan pers menghadapi kondisi yang semakin buruk,” tambahnya.

Siapa Maria Ressa, Perempuan Jurnalis Gigih Berjuang

Maria Ressa, perempuan kelahiran 1963 banyak dipuji karena dianggap berjasa dalam mengungkap penyalahgunaan kekuasaan, penggunaan kekerasan serta otoritarianisme di Filipina.

Pada tahun 2020, Maria Ressa, pernah dituduh melakukan ‘cyber-liber’ atau fitnah yang ditujukan kepada Presiden Filipina, Rodrigo Duterte.

Rappler yang didirikan Maria Resa bersama tiga jurnalis lainnya itu, memang sejak berdirinya 2012 dikenal ‘tajam’ lewat penyelidikannya di Filipina. Seperti, getol mempertanyakan ketepatan pernyataan hingga mengecam berbagai kebijakan yang merugikan publik

Selain itu, media yang dinahkodai Maria Ressa itu juga sempat menerbitkan sejumlah laporan kritis terhadap perang Duterte terkait perlawanan narkoba yang kebijakannya menyatakan akan menembak mati siapapun yang memakai narkoba. Akibat kebijakannya ini, dalam tiga tahun terakhir, sekitar 5.000 orang meninggal. Presiden Duterte di saat bersamaan juga diduga pernah melecehkan seksual seorang pekerja rumah tangga (PRT).

Duterte lantas menyangkal laporan situs itu “palsu” dan tidak memberikan akses bagi jurnalis meliput caranya. Maria Ressa pun sempat mendapat ancaman hukuman pidana sampai 6 tahun, meskipun kemudian bebas dengan jaminan setelah pada 2020 pasca ia ditangkap dan divonis bersalah terkait Undang-Undang Fitnah di Media Sosial oleh pengadilan Filipina.

Pada Kamis 4 Maret 2021, dilansir dari VOA Indonesia, Maria juga menghadapi empat tuduhan penggelapan pajak dan dinilai tidak mengajukan laporan pengembalian pajak yang akurat. Di luar itu, Maria menyatakan bahwa pemerintah telah mengajukan sepuluh surat perintah penangkapan terhadapnya dalam waktu kurang dari dua tahun

Maria mengatakan, ia mengimbau pemerintah untuk menghormati pekerjaan jurnalis. “Kami di sini untuk bekerja dengan Anda, dan Anda ingin kami melakukannya, karena dengan bersama-sama kita dapat menemukan jalan yang benar ke depan. Biarkan wartawan melakukan pekerjaan mereka dan jurnalisme bukanlah kejahatan,” katanya.

CNN menulis, banyak pihak, terutama aktivis hak asasi manusia, menganggap vonis terhadap Maria itu sebagai ancaman atas kebebasan berekspresi di Filipina.

“Sebagai jurnalis dan CEO Rappler, Maria telah menunjukkan dirinya sebagai pembela kebebasan berekspresi yang tak kenal takut. Rappler telah memusatkan perhatian kritis pada kampanye anti-narkoba yang kontroversial dan mematikan dari rezim Duterte,” kata Komite Nobel Norwegia.

Sepak terjang Maria, juga memiliki dedikasi dalam jurnalistik sebagai perempuan jurnalis yang berani. Dilansir The Famous People, ditemukan ada rekaman video liputan Maria bersama Osama bin Leden di Afghanistan. Maria Ressa, juga pernah dinobatkan sebagai Person of the Year tahun 2018 oleh majalah Time, mendapatkan Golden Pen of Freedom Award (2018) dan UNESCO/ Guillermo Cano World Press Freedom Prize (2021)

Dalam perjuangan atas kasus-kasus yang dihadapinya, Maria kemudian didampingi oleh Perempuan pengacara HAM internasional, Amal Clooney dan Caoilfhionn Gallagher QC, yang memimpin sebagai tim pembela untuk Maria.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh kantor hukum Doughty Street Chambers yang bermarkas di London, Amal Clooney menyebut Maria sebagai “seorang wartawan pemberani yang dianiaya karena melaporkan berita dan menentang pelanggaran HAM.”

Amal, pada 9 November 2021 juga dianugerahi penghargaan sebagai pengakuan atas kinerjanya, salah satunya dalam melakukan pembelaan HAM terhadap Maria. Amal menerima penghargaan Gwen Ifill Press Freedom Award bersama beberapa wartawan dari Bangladesh, Iran, Nigeria dan Rusia, yang menerima International Press Freedom Awards dari Komite Perlindungan Wartawan CPJ, yang berkantor di New York.

Harapan Pers dan Demokrasi

Dalam sebuah diskusi “Press In Distress: Will Independent Journalism Survive in Southeast Asia?” 8 Oktober 2021 yang dilakukan secara terbatas, Maria Ressa menyatakan berdiri satu barisan bersama koalisi tiga negara yaitu, Indonesia, Malaysia, Filipina sebagai respons menguatnya tekanan pers dan demokrasi di Asia Tenggara.

Pentingnya kerja sama yang solid ini, diharapkan bisa menghentikan serangan-serangan terhadap jurnalis. penyalahgunaan hukum dan manipulasi informasi. Utamanya di masa pandemi yang bersikonya kepentingan politik yang menjegal kebebasan pers dan demokrasi.

“Saya menyukai gagasan komunitas yang ingin kita bangun bersama ini. Lebih-lebih pada situasi pandemi, dimana orang-orang merasa terisolasi sehingga rawan sekali dimanipulasi lewat media sosial,” kata Maria, tak lama setelah dirinya dinyatakan memenangi Nobel Perdamaian.

Arif Zulkifli, anggota Dewan Pers mengatakan, apa yang dialami Maria Ressa di Filipina sebagai potret demokrasi yang saat ini terjadi di berbagai negara termasuk Indonesia. Pers telah mengalami serangkaian serangan fisik, digital, hingga kriminalisasi terhadap jurnalis dan aktivis di Indonesia yang bersuara keras terhadap kebijakan-kebijakan publik yang dianggap merugikan publik. Seperti, RUU Cipta Kerja hingga RUU KPK.

Kaitannya ini, Pendiri MalaysiaKini, Steven Gan dalam diskusi tersebut juga menyoroti pentingnya penggalangan dukungan publik agar pers bisa terus menjalankan tugasnya, menyuarakan kebenaran. Termasuk, dalam hal pembiayaan. Menurutnya, kebebasan publik akan sulit ditegakkan apabila publik tidak melihat jurnalisme sebagai hal yang serius diperhatikan.

Forum regional ini merupakan gagasan sejumlah organisasi jurnalis dan sineas di tiga negara, yang terdiri dari Aliansi Jurnalis Independen (Indonesia); Freedom Film Network, Gerakan Media Merdeka (Geramm), Center for Independent Journalism (CIJ) Malaysia; serta Dakila, Active Vista dan Rappler di Filipina.

“Sangat penting bagi kita semua untuk bersama-sama melindungi institusi pers, karena jika jurnalisme independen mati, maka demokrasi juga akan mati,” kata Anna Har, pendiri Freedom Film Network.

Baik AJI, CIJ, Geramm, dan Dakila menyatakan, perlunya melanjutkan kolaborasi ini di tingkat kawasan.

“Perlu ada solidaritas dan semangat bersama untuk mengawal kebebasan pers di Asia Tenggara. Kemenangan Maria Ressa akan membakar semangat media di Malaysia untuk bersuara lebih lantang dalam menyuarakan kebebasan pers dan berekspresi,” tegas Radzi Razak, juru bicara Geramm.

Ketua AJI Indonesia, Sasmito menegaskan akan terus membuka ruang-ruang kolaborasi dengan berbagai jejaring di Asia Tenggara. Koalisi tiga negara tersebut, lanjut dia, merupakan alarm terhadap menguatnya kekuasaan yang dirasa mulai anti terhadap demokrasi.

“Jurnalis tidak boleh ditundukkan, karena jurnalis harus berperan sebagai watchdog, mengawal demokrasi, mengungkap praktik-praktik kotor, serta melawan penyalahgunaan kekuasaan,” tegas Sasmito.

Tags: Maria RessaNobel Perdamaian 2021

Related Posts

Ratu Ratna Ajak Masyarakat Lawan Polarisasi Politik
WANITA HEBAT

Ratu Ratna Ajak Masyarakat Lawan Polarisasi Politik

Juli 3, 2022
13 Tahun Rayakan Kilau Persahabatan dari Koleksi Lebaran 2022
WANITA HEBAT

13 Tahun Rayakan Kilau Persahabatan dari Koleksi Lebaran 2022

April 27, 2022
V-Soy Ladies First, “mewujudkan yang terbaik” bagi para perempuan Indonesia
GAYA HIDUP

V-Soy Ladies First, “mewujudkan yang terbaik” bagi para perempuan Indonesia

April 20, 2022
QNET Meyakini Bahwa Perempuan dan Platform Digital Adalah Penggerakan Ekonomi
WANITA HEBAT

QNET Meyakini Bahwa Perempuan dan Platform Digital Adalah Penggerakan Ekonomi

Maret 24, 2022
Berikan Hadiah Istimewa Ke Istri, Tanpa Harus Bikin Kantong Jebol
GAYA HIDUP

Berikan Hadiah Istimewa Ke Istri, Tanpa Harus Bikin Kantong Jebol

Maret 21, 2022
Women’s Day 2022 : Gender Equality Today for A Sustainable Tomorrow
GAYA HIDUP

Women’s Day 2022 : Gender Equality Today for A Sustainable Tomorrow

Maret 19, 2022
Next Post
Jangan Glorifikasi Kesehatan Mental Dan Menjadikannya “Kartu As” Mangkir dari Kesalahan

Jangan Glorifikasi Kesehatan Mental Dan Menjadikannya “Kartu As” Mangkir dari Kesalahan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULAR NEWS

Apakah Ada Khasiat Mandi Bersama Anak

Apakah Ada Khasiat Mandi Bersama Anak

Desember 23, 2021
Resep Makanan Dimusim Hujan Agar Badan Hangat

Tips Makanan Mencegah Penuaan Diri Diusia Tua

April 27, 2022
Deretan Idol K-Pop Siap Comeback di Bulan September

Deretan Idol K-Pop Siap Comeback di Bulan September

September 7, 2021

Why the next 10 years of hot songs will smash the last 10

Desember 19, 2015
Pilihan Aplikasi Karaoke Terbaik yang Mampu Bikin Kamu Rileks

Pilihan Aplikasi Karaoke Terbaik yang Mampu Bikin Kamu Rileks

Oktober 20, 2021

EDITOR'S PICK

Hati -Hati, Banyak Minum Bikin Tambah Beban Bagi Yang Mengidap Penyakit Gagal Jantung

Hati -Hati, Banyak Minum Bikin Tambah Beban Bagi Yang Mengidap Penyakit Gagal Jantung

November 19, 2021

Breaking: Boeing Is Said Close To Issuing 737 Max Warning After Crash

Juni 1, 2022
7 Tahap Gaslighting dalam Sebuah Hubungan Percintaan

7 Tahap Gaslighting dalam Sebuah Hubungan Percintaan

September 18, 2021
Serum Untuk Wajah Paripurna!

Serum Untuk Wajah Paripurna!

Maret 5, 2022
Wanita Indonesia

@ 2022 WANITAINDONESIA.CO

Menu

  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Redaksi

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • HOME
  • WARTA
  • WISATA
  • TEKNOLOGI
  • GAYA HIDUP
  • TIPS
  • PARENTING
  • WANITA HEBAT
  • RESEP
  • INDEX

@ 2022 WANITAINDONESIA.CO