Senin 20 April 2026
Wanita Indonesia
Advertisement
  • HOME
  • WARTA
  • WISATA
  • TEKNOLOGI
  • GAYA HIDUP
  • TIPS
  • PARENTING
  • WANITA HEBAT
  • RESEP
  • INDEX
No Result
View All Result
Wanita Indonesia
  • HOME
  • WARTA
  • WISATA
  • TEKNOLOGI
  • GAYA HIDUP
  • TIPS
  • PARENTING
  • WANITA HEBAT
  • RESEP
  • INDEX
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Morning News
Home GAYA HIDUP

Patriarki Telah Menyusup dalam Panggung Teater Kita

redaksi by redaksi
September 26, 2021
0
Patriarki Telah Menyusup dalam Panggung Teater Kita

READ ALSO

Didepan 300 Mahasiswa, Unilever Indonesia : Tolerance is Key

Di Mommy and Me 2022 Ada Stroller Magicfold dan Bonikka !

wanitaindonesia.co – Patriarki telah menyusup di panggung teater. Jika perempuan hadir, maka ia ditafsir dengan ukuran laki – laki, male gaze tak terhindarkan.

Sebagai pelaku teater, tentu kita fasih menyebut Arifin C. Noer, W.S. Rendra, Teguh Karya, N. Riantiarno, dan Putu Wijaya sebagai deretan babon dramatrug Indonesia. Tak ada satu pun keterwakilan perempuan hadir di antaranya di masa-masa itu. Jika perempuan hadir, maka ia telah ditafsir oleh ukuran laki – laki, male gaze tak terhindarkan.

“Struktur macam apa yang membuat kita tak mau mendengar, membicarakan karya-karya perempuan seniman?.”

Pertanyaan ini membuka diskusi #Teaterisu 2, Pekik Perempuan di Panggung yang Maskulin yang diadakan oleh Perkumpulan Nasional Teater Indonesia (PENASTRI). Mari hentikan sejenak proses reading, olah tubuh, dan vokal untuk turun dari panggung dan merenung.

Pemantik diskusi, Intan Paramaditha penulis cum dosen kajian media dan film, Universitas Macquarie, Sydney, sangat jeli mengamati dominasi laki-laki yang membuat sejarah teater Indonesia begitu maskulin.

Lakon Mega Mega (1968) karya Arifin C. Noer misalnya, menampilkan perempuan dalam dua tokoh kontras, pelacur dan ibu. Begitu biner, perempuan diukur dengan standar moral dan immoral, jika tidak binal maka ia bijak.

“Kecenderungan ini begitu terlihat dan identik dengan pola Orde Baru yang sebenarnya sangat ia (Arifin C. Noer) benci,” kata Intan dalam paparannya, Jumat, 30 Mei 2021.

Di tahun yang sama dengan lakon Mega Mega ditulis, W.S Rendra tengah asyik membaca sajak Bersatulah Pelacur – Pelacur Jakarta. Dengan lantang, si burung merak itu menyuruh para pelacur perempuan untuk berhenti tersipu – sipu di saat negara dengan segala kebijakannya yang timpang, menyalahkan moral pelacur sebagai penyebab bencana. Ia menyebut para pelacur sebagai “temanku” untuk memberi kesan keberpihakannya pada kelompok marjinal.  Sekilas sajak ini nampak heroik, namun jika ditelisik lagi, maka kita akan menemukan gambaran perempuan yang ditatap pasif, tak mampu berpikir, dan tak punya suara sendiri untuk menggugat.

Sajak Sumpah WTS karya F. Rahardi (1983) lebih ironis karena mengobjektifikasi tubuh perempuan untuk misuh – misuh atau sumpah serapah belaka.

Kita mungkin kaget dengan fakta ini, tapi Intan Paramadhita mengajak kita lebih jauh lagi untuk melacak apa yang para laki-laki seniman ini baca hingga memengaruhinya dalam berkarya.

Intan Paramadhita melihat pengaruh Eugene Ionesco dan William Shakespeare yang kuat. Kenapa Eugene dan Shakespeare, bukan Susan Glaspell atau Anna Mowatt? Padahal mereka hidup di zaman yang tak merentang jauh, pun sama – sama punya karya yang dicatat sejarah teater dunia. Lalu mengapa tak menjadikan Susan, Anna, dan perempuan dramatrug lainnya sebagai salah satu referensi?

Bayangkan, puluhan tahun kita telah hidup dalam tradisi naskah yang begitu maskulin dan dengan bangga mementaskannya di berbagai panggung. Intan hanya menunjukan satu naskah lakon dan dua sajak, tentu masih banyak karya seni lainnya yang serupa, namun dianggap lumrah jika tak dilihat dalam perspektif feminis.

Naskah yang tak sensitif gender ini kemudian memperparah lingkup kerja teater yang umumnya masih didominasi laki-laki hingga kini. Laki-laki hadir sebagai konseptor atau sutradara yang mengatur dan mengambil keputusan penting, sementara perempuan kerap menempati posisi eksekutor di bidang  manajemen seperti penata rias, penata busana, seksi konsumsi, manajer panggung, dan pimpinan produksi.

Perempuan dikonstruksi lekat dengan pekerjaan domestik, dianggap mampu mengurusi tetek bengek manajemen panggung. Alih – alih melihat perempuan berkarya di muka publik, malah masuk jebakan Batman domestifikasi lagi.

Tak hanya itu, perempuan yang memutuskan menikah sering tak berteater lagi, penyebabnya tak lain, beban ganda mengurus anak, domestik, dan larangan dari suami yang patriarkis. Dari ranah domestik hingga publik, perempuan didikte.

Dalam 15 menit, Intan Paramadhita mencecar puluhan pegiat teater dengan 10 pertanyaan Menuju Praktik Seni Feminis yang membongkar dari hulu ke hilir praktik dan perspektif pelaku teater dalam berkarya.  Argumen Intan kian diperkuat dengan pemaparan Tya Setiawati, aktor, penulis lakon, dan sutradara Teater Sakata, Padang Panjang. Sebagai praktisi, Tya merasakan betul stigma perempuan yang dianggap emosional sehingga tak mampu memimpin kerja teater yang bersifat kolektif, tidak rasional mengambil keputusan, dan tak punya waktu yang lentur untuk berproses. Stigma ini begitu laten dalam kerja teater, ironisnya, sebagian besar perempuan justru ikut mengamini hal ini.

Padahal pangkal perkaranya adalah soal kesempatan yang jarang diberikan kepada perempuan untuk membuktikan kapasitasnya. Di panggung yang patriarki, perempuan selalu tumbuh sebagai seniman yang manut, diatur, dan diukur standarnya berdasar kemampuan akting (tentu kecantikannya) oleh laki – laki patriarkis dan perempuan yang sadar atau tidak ikut melanggengkan sistem ini.

“Perempuan harus seksi, menampilkan gestur tubuh yang sebenarnya tidak nyaman dilakukan, ini yang terjadi jika sutradara tidak memiliki perspektif gender,” ujar Tya.

Hal itu membuat Tya, melawannya dengan mengambil isu gender dalam karya – karya Teater Sakata, yakni, Bumi Perempuan (2007), Tiga Perempuan (2009), dan Carito Mande Dari Bukit Tuli (2011).

Dari pengalamannya, Tya melihat urgensi perempuan sebagai sutradara yang punya peran sentral untuk menyuarakan diskriminasi dan menjaring simpul – simpul perlawanan terhadap segala ketidakadilan gender dalam ekosistem teater. Tak berhenti sampai pentas, pada 2007 ia menginisiasi laboratorium teater berperspektif gender yang melibatkan semua perempuan sebagai sutradara, penata artistik, musik, dan lainnya.

Hasilnya, Tya dkk mampu memantik wacana yang semula tabu menjadi cair untuk dibicarakan. Berkat konsistensinya di isu gender membuatnya meraih Hibah Seni Kelola 2006 kategori Karya Inovatif dalam lakon Dekonstruksi Perawan, Hibah Program Empowering Women Artists (EWA) Kelola pada 2007, dan Bunga Comberan lakon dianugerahi Pemberdayaan Theatre for Development and Education (TDE).

Dari Intan dan Tya kita menyadari, praktik seni gender adalah kerja kolektif seperti teater. Tak akan terwujud sebagai panggung yang adil gender tanpa kontribusi setiap pelaku di dalamnya.

Setelah merenung, mari kembali ke panggung dan melakukan perubahan.

Tags: patriarki

Related Posts

Didepan 300 Mahasiswa, Unilever Indonesia : Tolerance is Key
GAYA HIDUP

Didepan 300 Mahasiswa, Unilever Indonesia : Tolerance is Key

Juli 2, 2022
Di Mommy and Me 2022 Ada Stroller Magicfold dan Bonikka !
GAYA HIDUP

Di Mommy and Me 2022 Ada Stroller Magicfold dan Bonikka !

Juli 2, 2022
Mommy N Me Dibuka hari ini
GAYA HIDUP

Mommy N Me Dibuka hari ini

Juli 2, 2022
Cara Gampang Mengungkapkan Perasaan Kepada Wanita Yang Kamu Sukai
GAYA HIDUP

Cara Gampang Mengungkapkan Perasaan Kepada Wanita Yang Kamu Sukai

Juli 2, 2022
Tanda Wanita Yang Memendam Perasaan Cinta
GAYA HIDUP

Tanda Wanita Yang Memendam Perasaan Cinta

Juli 2, 2022
Hal Yang Membuat Hati Wanita Menjadi Sakit Hati
GAYA HIDUP

Hal Yang Membuat Hati Wanita Menjadi Sakit Hati

Juli 2, 2022
Next Post
Pelecehan Seksual di Industri Film, Apa Saja Penyebabnya?

Pelecehan Seksual di Industri Film, Apa Saja Penyebabnya?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULAR NEWS

Apakah Ada Khasiat Mandi Bersama Anak

Apakah Ada Khasiat Mandi Bersama Anak

Desember 23, 2021
Resep Makanan Dimusim Hujan Agar Badan Hangat

Tips Makanan Mencegah Penuaan Diri Diusia Tua

April 27, 2022
Deretan Idol K-Pop Siap Comeback di Bulan September

Deretan Idol K-Pop Siap Comeback di Bulan September

September 7, 2021

Why the next 10 years of hot songs will smash the last 10

Desember 19, 2015
Pilihan Aplikasi Karaoke Terbaik yang Mampu Bikin Kamu Rileks

Pilihan Aplikasi Karaoke Terbaik yang Mampu Bikin Kamu Rileks

Oktober 20, 2021

EDITOR'S PICK

PGN Anggarkan Capex 2022 Senilai Rp10,96 Triliun

PGN Anggarkan Capex 2022 Senilai Rp10,96 Triliun

Januari 13, 2022
Paduan Cara Agar Kamu Tidak Bau Mulut

Paduan Cara Agar Kamu Tidak Bau Mulut

Februari 9, 2022
Sifat Dan Tingkah Laku Kakak Ipar

Sifat Dan Tingkah Laku Kakak Ipar

April 3, 2022
Keluarga Sibuk Tetap Perlu Power Breakfast

Keluarga Sibuk Tetap Perlu Power Breakfast

Oktober 20, 2021
Wanita Indonesia

@ 2022 WANITAINDONESIA.CO

Menu

  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Redaksi

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • HOME
  • WARTA
  • WISATA
  • TEKNOLOGI
  • GAYA HIDUP
  • TIPS
  • PARENTING
  • WANITA HEBAT
  • RESEP
  • INDEX

@ 2022 WANITAINDONESIA.CO